Aktivitas Oknum Pengurus Dirasa Bertentangan dengan Hati Nurani, Ustadz Ali Pilih Keluar dari Pontren Al Hidayah Koto Baru



Merangin | fokusinfo.com : Isu konflik internal antar pengurus Pondok Pesantren (Pontren) Salafiah Al Hidayah Koto Baru Kecamatan Tabir mulanya hanya dianggap kabar angin saja. Namun belakangan terkuak ke publik bahwa konflik antar pengurus benar benar terjadi. Akibatnya pontren tersebut diduga mengalami krisis administrasi dan krisis moral.

Ustadz Ali, mantan pimpinan Pontren Al Hidayah kepada media ini dengan lantang mengungkapkan pontren yang pernah dipimpinnya itu saat ini kondisinya tidak lagi sehat. Bahkan dia klaim menjadi salah satu korban dugaan tindakan kasak kusuk salah seorang oknum pengurus, sehingga dirinya tidak lagi memimpin Pontren.

‘’Pengurus Pontren itu rata-rata saya yang asuh sejak mereka kecil. Begitu telah memiliki ilmu pendidikan, saya berpandangan manajemennya kok berubah jadi buruk,” kata Ustadz Ali, sedh.

Ali membeberkan, tindakan diluar batas oleh oknum pengurus yang baru baru ini dilakukan adalah dugaan penggelembungan jumlah santri. Ali menduga tindakan itu untuk bisa mendapatkan dana dari Kesra Provinsi Jambi berupa Bantuan makan minum santri. Menurutnya tindakan itu sangat bertentangan dengan hati nuraninya yang merupakan mantan anggota DPRD Merangin itu.

Menurut Ali sepengetahuan dirinya jumlah santri yang murni terdaftar di pontren itu hanya sebanyak 22 orang. Namun dalam proses pengajuan diduga terjadi penambahan jumlah santri oleh oknum pengurus.

‘’Jujur saya tidak setuju dengan menajemen Pontren seperti itu, makanya saya putuskan keluar dari pondok tu. Terus terang niat saya itu ingin hijrah ke yang lebih baik ternyata dihadapkan dengan peristiwa dan kondisi seperti itu ya pastilah bertentangan dengan hati nurani,” ungkapnya

‘’Jadi setahu saya jumlah santri hanya ada kisaran 22 orang. Nah saya tidak tahu pasti itu inisiatif siapa sehingga Pontren tersebut berhasil mendapatkan bantuan lebih dari 22 paket. Yang jelas tidak ada perintah dari pimpinan pondok maupun dari yayasan untuk merubah jumlah santri,” tuturnya.

‘’Yang tahu tentulah operator karena dia yang lebih tahu berapa jumlah santri yang sebenarnya, bisa jadi ini inisiatif operator karena selama ini dia lah yang menjadi operator dan sekaligus yang memegang dananya,” tutup Ali.

Informasi yang berhasil media ini peroleh berdasarkan data Education Management Information System (EMIS) pondok pesantren Al- Hidayah terdapat 213 santri. Pontren itu mendapat bantuan dari Kesra Propinsi Jambi sebanyak 170 santri. Sementara klaim Ali, hanya ada 22 santri yang menimba ilmu di pontren tersebut. (*)

 

Reporter : GondoIrawan

Redaktur : TopanBohemian

Share:















Diberdayakan oleh Blogger.

Wikipedia

Hasil penelusuran

Jumlah Pembaca

Advertisement

YouTube Fokus Info VisuaL

Popular Posts

Blog Archive

Recent Posts

Unordered List

Pages

Theme Support

BTemplates.com