• TONI IRWAN JAYA SH. CALEG DPRD MERANGIN DAPIL 1

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • KREASI FLORIST KABUPATEN MERANGIN.

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 3 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 4 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 5 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Puber Ke-Dua | Cerpen Karya Topan Bohemian | Merangin



Judul      : Puber Ke-Dua
Karya     : Topan Bohemian

Hari ke 1
Siang itu, matahari tepat diatas kepala. Butir-butir peluh rata menyesak keluar dari rongga kulitku. Sesekali aku menyeka. Kedua bola mataku masih tak lepas dari satu pandangan. Ini tentang dia, gadis yang ku puja, setidaknya gadis yang baru tiga menit ini ku puja. Hingga akhirnya dia berlalu... aku terpaku.
‘’Ah, besok akan kuulangi lagi,” niatku dalam hati.
Malamnya aku tak nyaman memejamkan mata. Sosok bayang gadis yang ku jumpa siang itu bermain-main dalam lamunan. Sesekali aku tertawa kecil. Bergumam pasrah. Ah... hingga akhirnya aku terbangun pada paginya.

Hari ke 2
Pagi itu keceriaan dan semangatku melimpah. Tak sabar aku mengulangnya kembali, menatap wajah teduh gadis yang ku puja. Berfantasi. Aku bergegas...
Ditemani hasrat aku menunggu. Setia menunggu meskipun dia tak tahu. Hingga matahari tepat diatas kepala, butir-butir peluh rata menyesak keluar dari rongga kulitku, kejadian yang sama terulang kembali.
Tak berapa lama gadis itu muncul dari keramaian remaja seusianya. Sama seperti kemarin, dia mengenakan seragam putih abu-abu. Bedanya pada warna pita yang menghiasi rambutnya.
Wajahnya tetap teduh seperti kemarin mengalahkan panas sinar matahari. Sesekali dia menoleh ke kanan dan ke kiri. Sesekali juga dia berbicara dengan teman-temannya. Sempat jantungku berhenti berdetak, tumbuh rasa cemburu.
‘’Hei, bengong... ayo kerja,” kata seorang teman seraya menepuk pundakku. Aku sangat terkejut sampai-sampai helm yang kupegang jatuh ke trotoar.
Ku ambil helm yang jatuh itu, ketika berdiri bukan main aku terkejutnya. Gadis yang ku puja berdiri tepat dihadapanku. Aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku gagap. Aku tertegun. Aku kagum. Dia tersenyum. ‘’Masya Allah,” gumamku.

Hari ke 3
‘’Semalam parah, Aku teringat terus dia,” ungkapku melalui tulisan status di facebook. Ya, meskipun aku sering menulis status namun tidak pernah ada yang mengomentari. Huh, rasanya aku benar-benar sendiri di dunia ini.
Tapi memang benar, semalam aku teringat terus dirinya. Guratan raut muka membentuk lengkung senyumnya menempel didalam kornea mataku. Susah memejamkan mata, hasilnya aku bangun kesiangan.
Seperti hari pertama dan kedua, aku setia menunggu meskipun dia tidak tahu. Tak berapa lama, tepat dugaan waktu yang kutentukan dia muncul dari kerumunan rekan sebayanya. Mereka bercengkerama.
Ditempat yang sama, ku nikmati pesonanya. Berfantasi, hingga yang kulihat hanya diriku dan dirinya. Segumpal awam putih tutupi matahari, siang itu berwujud fajar. Angin sepoi gerakkan ujung rambut. Dia mendekat, dia mendekat, dia mendekat... hingga tepat didepanku.
Lirih suaranya masuk ke telingaku. Dia bertanya, aku tak menjawab. Aku gagap. Sungguh aku tak tahu apa yang ditanyakannya, padahal belasan kata yang diucapkannya merasuki aku. Aku hanya mengangguk setuju. Aku hanya sibuk menikmati harumnya, aku gila akan kecantikannya.
Semburat biru muda tiba-tiba. Entah bagaimana aku dan dia kini berada diatas kereta, berjalan meniti pelangi tanpa akhir hujan. ‘’Masya Allah, kecantikannya kalahkan indahnya alam,” masih dalam gumamku. Hingga dia turun dari kereta, tersenyum padaku seraya memberikan pita warna ungu. Aku tinggalkan dia, aku bahagia. Akan ku ulangi lagi besok...

Hari ke 4
Perjalanan kami kemarin terbingkai rapi di hati, tepatnya hatiku. Pita warna ungu yang diberikannya ku rekatkan di cermin kamar, pagi tadi. Hari ke empat ini pun aku masih mengulangi kembali seperti hari pertama, kedua dan ketiga. Setia menunggu dirinya meskipun dia tidak tahu.
Setangkai mawar terselip dijari tanganku. Ku sembunyikan dipunggungku. Sesosok tubuh semampai masih berdiri seberang jalan sana. Lalu lalang kendaraan berlomba-lomba ingin sampai tujuan.
Kuberanikan diri menyapa, dia menoleh padaku. ‘’Aduhai lembutnya wajah itu,” gumamku. Ku panggil lagi dia, gadis yang bagi ku tak memiliki nama. Dia mengangguk, dia melangkah kearahku. Menyeberangi aliran kendaraan-kendaraan beraneka jumlah roda. Dia seperti putri cinderella yang pernah ku tonton. Mataku tak sedikitpun berkedip, menikmati indah dirinya, gadis yang tak pernah ku tahu siapa namanya. Tiba tiba... ‘’Awasss...” teriak seseorang dari kejauhan, membuyarkan lamunanku...

Hari ke 5
Tiga batang puntung rokok jatuh dari jepitan jari tanganku. Sejak Jam 7 pagi aku telah berdiri disini. Masih menantinya, gadis yang tak kutahu siapa namanya.
Namun kali ini bukan hanya aku yang menanti, satu persatu orang yang tak ku kenal juga menanti kedatangannya. Kami berkerumun, aku orang asing.
Tak berapa lama sirine mobil terdengar mendekat, mobil yang bagi sebagian orang takut bila menjadi penumpangnya. Sementara dibelakang mobil itu rombongan pengantar jenazah mengiringi. Ya, yang aku tunggu sekarang adalah jenazah gadis itu, gadis muda belia yang empat hari ku puja. Dia mengalami kecelakaan saat menyeberang jalan kemarin. Tapi bukan ke arahku, selama ini aku saja yang berfantasi.
Mobil jenazah berhenti, orang-orang cekatan mengeluarkan jenazah dan menggotongnya ke liang kubur. Aku tidak menolong, aku hanya melihatnya dari luar pagar, sesekali ku seka peluh yang mengucur tak rata. Dan tentu saja aku sedih, setidaknya mataku pun turut berkaca-kaca, tapi ku sembunyikan dalam helm. Dan aku pergi...

Hari ke 6
‘’Bang, sudah lima hari pendapatan abang kurang, lebih giat lagi lah bang, beras sudah mau habis,” kata istriku pagi itu. Aku menghela nafas dalam, mengangguk.
Bergegas aku ke kamar, pita warna ungu yang merekat di cermin ku lepas, ku buang. Lalu aku pamit kepada istriku, mataku berkaca-kaca melihat wajahnya, wajah istriku yang sebagian bergaris-garis. Dan aku pun lupa kalau wajahku juga mengalami hal yang sama.
Aku terharu, ku kenang kembali kesetiaannya selama ini mendampingiku. Memberikan kasih sayang kepadaku, anak-anak dan juga dua orang cucu kami.
Ya, umurku sekarang hampir 60 tahun, istriku dua tahun lebih muda. Soal gadis belia yang empat hari kupuja, aku akan melupakannya. Ku anggap puber ke dua. Aku akan kembali ke aktifitas ku selama ini, pekerjaan yang menghidupi keluarga kami selama ini. Mencari penumpang, menjadi raja dijalan raya. Ngojek...(*)

*Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan peristiwa, tidak ada unsur kesengajaan.


Share:

Tragedi Gigi Palsu | Cerpen Karya Topan Bohemian | Merangin



Judul : Tragedi Gigi Palsu
Karya : Topan Bohemian

Siang itu suasana kantin sekolah seketika riuh. Terdengar gerai gelak tawa dari dalamnya, sesaat kemudian melesat keluar gadis seragam putih abu-abu. Menangis.

Satu hari sebelumnya
Namanya Giva, gadis manis dan cerdas berperawakan keibuan. Saat ini Giva duduk dibangku kelas XI salah satu SMA di Merangin. Diantara teman-temannya Giva termasuk Siswi yang menonjol, baik dari intelektual maupun tampilan fisik. Jadi Giva merupakan salah satu incaran favorit bagi siswa yang lainnya untuk dijadikan gebetan.
Salah seorang siswa yang kesemsem Giva bernama Tori. Tori ini juga tak kalah tenar dari Giva, Tori berperawakan macho itu terkenal sebagai cowok yang jago basket, juga memiliki kewibawaan diantara teman-teman lainnya. Tak heran jika tidak sedikit cewek-cewek yang bermimpi bisa berdekatan dengan Tori. Begitupun teman-teman cowok, mereka bangga bisa berteman dengan Tori.
Keinginan Tori mendekati Giva telah menjadi rahasia umum disekolah itu. Berbagai kesempatan dimanfaatkan Tori untuk bisa berdekatan dengan Giva. Hingga akhirnya sejoli itu benar-benar dekat dan jadian.

Sejak Giva dan Tori jadian, sejak itu pula isu tak sedap muncul. Entah siapa yang memulainya, isu yang benar-benar membuat berang orang yang dimaksud. Isu yang menyatakan bahwa gigi Giva palsu.
‘’Eh, apa benar gigi Giva palsu? Bagian yang mana?” Tanya Rinda, salah seorang siswi kepada teman-temannya saat kumpul bareng dipojokan kelas.
‘’Kabarnya sih begitu, tapi aku ga’ pernah lihat langsung,” jawab Bita.
‘’Eh, tapi kalo kita perhatiin, warna gigi depan Giva kayak nggak rata ya, jangan-jangan bagian depannya itu loh,” timpal Lenja.
‘’iiihhh, kebayang ga’ sih, wajah Giva yang manis keibuan gitu pas ngomong kelihatan gigi depannya ompong,” kata Bita, ketiga gadis itu tertawa.

Isu gigi palsu Giva sampai juga ke telinga Tori, pria ganteng itu tentu saja tidak mudah percaya. Bahkan Tori sempat emosi kepada dua temannya, Putra dan Kodi.
‘’Apaan sih kalian berdua ini, ngomongin pacar ku seperti itu,” kata Tori emosi.
‘’Ini benar Tor, sudah jadi pembicaraan siswa satu sekolah, bahkan guru juga sudah pada tahu,” jawab Putra.
‘’Iya Tor, sebenarnya ini bukan masalah serius, hanya jaga-jaga saja. Kebayang ga’ pas kamu lagi makan dengannya trus gigi palsunya copot,” kata Kodi sambil menahan tawa. Tori pergi meninggalkan Putra dan Kodi.

Malamnya, peristiwa itu membuat Tori tidak bisa memejamkan mata dengan mudah. Perkataan Putra dan Kodi terngiang-ngiang ditelinga. Tori membayangkan jika benar-benar gigi Giva palsu. Tentu dia akan menjadi bahan olok-olokan seluruh penghuni sekolah itu.
Sesekali dia tertawa kecil, marah. Lalu merebahkan posisi tubuh ke kanan seraya berusaha terus memejamkan mata.
‘’Apa benar itu ya, ih, amit-amit kalau memang benar,” batin Tori.

Keesokan harinya, seperti biasa Tori mengajak Giva makan di kantin belakang sekolah. Namun kali ini gelagat Tori sedikit berbeda dari biasanya. Sesekali Tori memperhatikan barisan gigi Giva. Barisan gigi yang diisukan adalah palsu itu.
Di bangku yang lain tampak Putra, Kodi, Rinda, Bita dan Lenja menikmati makanan yang mereka pesan. Juga sejumlah siswa yang lain ada di kantin itu.
‘’Kamu kenapa, kok kaku,” tanya Giva ke Tori.
‘’Ah nggak, biasa aja kali. Eh aku pesanin kamu bakso pakek daging cincang ya, kamu pasti suka,” jawab Tori sekaligus memesan makanan kepada Ibu Kantin.
‘’Ah jangan daging cincang lah, aku kurang suka, nanti bodi ku tambah endut,” Giva menolak.
Tolakan itu membuat Tori tambah penasaran.
‘’Ga apa lagi, makan deh baksonya. Aku suka kok cewek yang endut,” canda Tori.
‘’Nggak Tori, kalo makan ini takutnya gigi ku sakit,” mohon Giva.
‘’Ah masak iya, perasaan gigi kamu baik-baik saja,” selidik Tori, semakin penasaran.
‘’Ayolah, katanya kamu cinta aku. Ayo kita makan sama-sama,” kata Tori seraya menyuapi sebongkah daging cincang ke mulut Giva.
Mulanya Giva geleng kepala, namun karena terus didesak akhirnya dia memakan daging cincang tersebut. Namun tidak dikunyah tapi langsung ditelan.
Tori membatin. ‘’Kok tidak dikunyahnya,” gumam Tori.
Suasana kantin masih ramai, aktifitas jual beli berlangsung seperti biasanya. Tori masih mengatur siasat dengan memesan makanan-makanan yang kenyal untuk mereka habiskan.
‘’Bu, pesan peempek lima ya,” teriak Tori kepada ibu kantin.
Giva yang mendengar itu kebingungan. ‘’Kamu sanggup makan peempek buatan bu kantin. Kan terkenal keras,” kata Giva kepada Tori.
‘’Ah ga apa, kita habisin berdua ya. Hari ini aku pengen kita makan sepuasnya. Soalnya aku lagi banyak duit ni,” kata Tori.
‘’Lagi banyak duit Tor, traktirin kita dong,” celetuk Kodi. Tori dan Giva saling pandang. ‘’Ayo gabung sini,” ajak Tori.

Tori, Giva, Kodi, Putra, Rinda, Lenja dan Bita duduk satu meja. Mereka memesan banyak makanan, khususnya makanan yang kenyal dan keras. Namun gigi Giva masih tahan, tidak lepas. Tori membatin, ternyata isu gigi Giva palsu itu tidak benar. Tori bahagia, mereka bercengkrama ngobrol segala sesuatu bahkan hal yang tidak penting pun menjadi bahan pembicaraan.

Masih dalam tawa canda para remaja itu, Tori memandang Giva yang manis. Dia bangga memiliki pacar seperti Giva, periang, cerdas, dan pandai bela diri. Giva juga tercatat sebagai atlet karate disekolah itu. Pernah mewakili sekolahnya di tingkat kabupaten.
Putra dan Kodi masih dalam candaanya, mereka itu dua pria yang pandai berolah kata. Hampir semua rangkaian kata yang dikeluarkan mereka bisa membuat orang tertawa.

Tak berapa lama Ibu kantin datang menghampiri membawa satu sisir pisang. ‘’Ini gratis buat kalian, karena telah membeli banyak makanan disini,” kata Ibu Kantin disambut tawa riang Tori dan teman-temannya, Giva juga gembira.
Mereka makan pisang berebutan, suasana akrab penuh nilai kekeluargaan tercipta. Hingga Giva mengambil gelas berisi es teh dan meminumnya. Ketika gelas diletakkan diatas meja, Tori melihat sesuatu benda didalam gelas itu. Benda yang belum diketahui pasti apa namanya. Sesaat kemudian semua terdiam. Kaku.

Tori, Kodi, Putra, Rinda, Lenja, Bita dan Ibu Kantin tak bersuara, memandang Giva yang langsung menutup mulutnya dengan kedua jemari tangannya. Lalu berdiri. Suasana menjadi sunyi.
Tak berapa lama, Tori mengatup bibirnya, pipi menggembung, mengercingkan mata, desakan suara tak tertahan. Tori tertawa lepas sekeras-kerasnya. Diikuti Kodi, Putra, Rinda, Lenja, Bita dan Ibu Kantin. Mereka tertawa melihat gigi Giva yang copot. Mungkin karena makan pisang tak sengaja gigi itu lepas dan jatuh ke dalam gelas teh manis yang diminumnya.
‘’Hahahaha... ternyata benar gigi pacarku yang manis ini palsu,” kata Tori, diikuti tawa teman-teman lainnya bahkan ibu kantin juga tak bisa menahan tawa.
Giva menahan tangis, dia berlari meninggalkan kantin. Keluar dengan ledakan tangis dan air mata. Sementara didalam kantin masih terdengar sayup-sayup derai tawa canda.

Giva bersandar di pagar. Menatap ke langit, menggeretakkan rahangnya. Giva kembali ke kantin, disana masih duduk Tori, Kodi, Putra, Rinda, Lenja, Bita dan Ibu Kantin. ‘’Kembalikan gigi ku,” pinta Giva.
Tori, Kodi, Putra, Rinda, Lenja, Bita dan Ibu Kantin kembali tertawa tak kala melihat gigi Giva yang ompong saat bicara.
‘’Ini giginya sayang,” kata Tori sambil memberikan segelas teh manis yang didalamnya ada gigi Giva.
Pandangan Giva memudar, orang-orang yang ada disekitarnya membayang dua. Suara-suara tawa menyakitkan itu terus berulang-ulang terdengar. Merobek-robek harga diri, menghina, melahirkan tenaga ekstra, membuahkan balas dendam.
Ketika Giva menerima gelas pemberian Tori, secara reflek Giva melempar gelas itu ke wajah Tori, tepat mengenai gigi Tori. Pantulan gelas meluncur ke wajah Putra, hebatnya juga tepat mengenai gigi Putra.
Segera Kodi berdiri dengan maksud memegang tangan Giva agar tidak menyerang kembali, saat berdiri itu Kodi terpeleset menimpa tubuh Bita, Bita yang kala itu memegang piring bekas pecal, tumbang. Sementara piring bekas pecal itu melayang mengenai wajah Lenja.
Rinda yang duduk rapi di sebelah kanan Giva langsung berdiri. Dengan liarnya Giva langsung mengeluarkan jurus karatenya, gigi Rinda terkena siku Giva.
Ibu Kantin ketakutan. Dia berniat lari meninggalkan kantin hendak melaporkan kejadian itu kepada keamanan sekolah. Ketika telah berhasil keluar pintu, kepala Ibu kantin tepatnya gigi ibu kantin terantuk daun jendela, Ibu kantin roboh.

Tori, Kodi, Putra, Rinda, Lenja, Bita dan Ibu Kantin mengerang kesakitan. Tak berapa lama Tori, Kodi, Putra, Rinda, Lenja, Bita dan Ibu secara bersama-sama berteriak. ‘’Gigi kami patah...,” teriak mereka.

Giva berdiri didepan Tori yang masih tersungkur. Tersenyum kecil. ‘’Tori, Aku cinta kamu, tapi harga diriku lebih berarti,” Kata Giva. Dia berpaling keluar kantin. Sejenak berhenti. ‘’Kalau kalian butuh gigi palsu, hubungi aku,” Kata Giva. Lantas pergi.

Tiga hari setelah kejadian itu, Tori, Kodi, Putra, Rinda, Lenja, Bita dan Ibu Kantin berkumpul. Tak berapa lama, Giva tiba dan bergabung. Suasana kantin seperti biasanya. Yang berbeda adalah mereka sekarang telah memakai gigi palsu. Tapi hanya sedikit orang yang tahu rahasia itu. (*)

*cerita ini hanya fiktif belaka, apabila ada kesamaan nama tokoh , tempat, waktu, dan peristiwa, hanyalah kebetulan belaka.






Share:

Menyapa H. Jamaluddin | Kabid Dikdas Disdik Merangin


Jamaluddin

Khusus dikalangan Dinas Pendidikan (Disdik) Merangin, siapa yang tidak kenal dengan pria yang satu ini. Jamaluddin, ya... saat ini Pak Jamal (panggilan akrabnya,red) menjabat sebagai Kepala Bidang Pendidikan Dasar (Kabid Dikdas) Disdik Merangin.
Pria kelahiran Desa Rantau Kemas Kecamatan Jangkat, 51 tahun lalu ini ternyata menyimpan banyak pengalaman seperti pengabdian pendidikan, birokrasi pemerintahan, kepemimpinan hingga tidak salah jika dirinya dipercaya Bupati Merangin mengurusi bidang pendidikan dasar.
Rentetan pengalaman itu antara lain mengabdi menjadi guru selama 15 tahun, pernah menjabat sebagai kepala sekolah selama 8 tahun dan juga pernah menjabat sebagai kepala desa selama 5 tahun. Tidak hanya itu, Jamal juga berperan meningkatkan perekonomian masyarakat desanya sejak dirinya berwirausaha sebagai toke kentang.
‘’Saya merintis usaha itu dari nol, alhamdulillah saat ini sudah lumayan besar lah,” ungkap Jamal, diruang kerjanya.
Kesuksesan Jamal bukan saja pada jabatan dan usaha yang didirikannya dengan kerja keras. Keharmonisan rumah tangga menjadi landasan utama Jamal lebih tekun lagi berkarir sesuai dengan amanah yang dipercayakan kepadanya. Bagi Jamal, disaat keluarga mendukung maka momentum itu sebagai motivator terbesar dirinya meraih kesuksesan.
‘’Bagi saya dukungan keluarga itu harus ada. Alhamdulillah mereka mendukung saya,” singkat Jamal.
Jamal menceritakan saat menikah dirinya berusia 20 tahun, sementara jarak usia istrinya 6 tahun dibawahnya. Meskipun saat itu Jamal bisa dikatakan menikahi gadis dibawah umur tapi berkat kerja keras, komunikasi lancar, saling pengertian hingga saat ini keharmonisan keluarga tetap terjaga dengan baik. ‘’Prinsip saya sederhana, mengalir seperti adanya,” singkat Jamal.
Saat ini Jamal memiliki satu orang istri bernama Kasmawati. Mereka dikaruniai tiga orang anak dan empat orang cucu. Dalam mendidik anak, Jamal menerapkan disiplin dan ekstra ketat. Hasilnya tiga orang anak Jamal dan Kasmawati saat ini sudah tergolong menjadi orang yang sukses.
‘’Anak saya pertama saat ini profesinya Dokter, yang kedua guru dan yang ketiga masih honor. Bagi saya harta yang utama itu adalah ilmu. Ilmu dalam segala hal itulah yang saya  turunkan kepada anak-anak saya,” katanya.  
Jamal sempat menceritakan kisahnya ketika dirinya berdoa menghadap Baitullah saat menunaikan ibadah Haji pada tahun 2010 silam. Saat itu yang ada dibenaknya adalah diberikan kesukesan, kesehatan, keberkahan, keselamatan dunia akhirat dirinya sekeluarga.
‘’Saat berdoa di Baitullah, wujud bayang yang terlintas pertama kali adalah kedua orang tua saya. Lalu istri, anak-anak, Adik-adik saya. Tak sadar airmata saya berlinang. Saya menyadari banyak dosa yang melekat, saya minta ampun sama Allah. Intinya saya ingin menjadi manusia yang seutuhnya, lepas dari segala nafsu duniawi yang menjerumus kepada dosa,” tutur Jamal yang mengaku godaan terberat dalam hidupnya adalah uang dan wanita.
Tentang perjalanan hidup, Jamal tidak menyangka bisa duduk menjadi pejabat di pemerintahan kabupaten Merangin ini. Namun karena jabatan itu adalah amanah maka selama menjalaninya dengan ikhlas seluruh persoalan dan program kedepannya bisa terlaksana dengan baik.
‘’Saya sudah diberi amanah oleh atasan saya. Jadi harus dijaga jangan sampai terjadi hal-hal yang mengecewakan atasan,” ungkap Jamal yang sempat malu-malu ketika FIJ menyentil  jabatan Sekretaris Dinas Pendidikan. (dede/cepi)
Share:

Sukmayadi : ‘’Saya Dua Hari Tidak Tidur Itu Biasa” | Kabid Cipta Karya Dinas PU Merangin



Kontraktor Diharapkan Bekerja Optimal
Sukmayadi
 Merangin | FIJ - Menjabat sebagai Kepala Bidang (Kabid) Cipta Karya bukanlah perkara gampang. Memang jabatan itu mulia karena melalui bidang itu sebagian pembangunan untuk kepentingan masyarakat bisa terlaksana, namun banyak juga tantangannya. Hal itu diungkapkan Kabid Cipta Karya Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kabupaten Merangin, Sukmayadi kepada Fokus Info Jambi (FIJ), beberapa waktu yang lalu di ruang kerjanya.
Sukmayadi menjelaskan empat poin utama yang dijalankan Bidang Cipta Karya saat ini yang pertama Pemberdayaan Masyarakat yang dalam pengerjaannya diserahkan ke masyarakat . Yang kedua kegiatan program peningkatan infrastruktur (PPI). Yang ketiga Program jalan jembatan pedesaan (PJJP) dan keempat Program Air Bersih (PAB).
‘’Empat itu fokus kita yang utama dalam membangun Merangin ini. Nah persoalannya jika proyek ditemukan penyelewengan maka kembali lagi kepada kami disini,” katanya.
Dirinya juga mengatakan, pekerjaan pembangunan yang dilaksanakan di Cipta Karya kebanyakan memiliki dana kecil dibanding bidang lainnya di Dinas PU tersebut.
‘’Sebagai contoh pembangunan jembatan, di Cipta Karya ini hanya jembatan kayu pedesaan, kalau jembatan gantung yang besar-besar itu di Bidang Bina Marga. Jalan yang kami buat juga kecil seperti jalan lingkungan pedesaan,” jelasnya.
Menurut Sukmayadi, pihaknya sering mengkroscek kembali jika ada pengajuan pembangunan jalan yang dikira proyek tidak sesuai dengan peruntukannya.
‘’Jika memaksakan diri maka ujung-ujungnya kembali kepada kami. Maka dalam penetapan proyek harus teliti. Kembali tadi, dananya kecil,” tutur pria yang memiliki raut wajah ceria itu.
Kepada kontraktor pengerja proyek, Sukmayadi mengharapkan setiap pekerjaan dilaksanakan dengan maksimal agar membuahkan produk yang bermutu.
‘’Sebelum tandatangan kontrak, kami selalu mewanti-wanti para kontraktor proyek dapat bekerja serius serta melaksakan tepat waktu,” katanya.
Tidak sampai disitu, Selain pihak konsultan, Sukmayadi menugaskan stafnya kontinu melakukan pengawasan di lapangan sehingga produk proyek sesuai harapan masyarakat.
‘’Setiap proyek selalu kami awasi secara berkala agar fisik tersebut memiliki kualitas standar sesuai yang diinginkan dan masyarakat bisa lebih lama menggunakannya.
Untuk bisa mendapatkan kinerja yang profesional Sukmayadi mengaku terus menciptakan inovasi melalui evaluasi saat rapat internal. Pengorbanan waktu berkumpul dengan keluarga sudah tidak terkata lagi. Namun karena panggilan jiwa dan menyangkut rakyat banyak segala itu dilakukan dengan ikhlas dan selalu menuruti peraturan yang berlaku.
‘’Kita ini sebenarnya abdi masyarakat. Jadi harus bekerja demi kepentingan masyarakat banyak. Bagi saya dua hari dua malam tidak tidur, itu biasa. Prinsip saya hari ini lebih baik dari hari kemarin,” pungkasnya.(topan)

Share:

Diberdayakan oleh Blogger.

Wikipedia

Hasil penelusuran

Jumlah Pembaca

Advertisement

YouTube Fokus Info VisuaL

Popular Posts

Blog Archive

Recent Posts

Unordered List

Pages

Theme Support

BTemplates.com